Archive for December, 2006

Boots Tua Temanku

Friday, December 29th, 2006

Aku gila belanja tas dari dulu. Sekarang??? Aku gila beli boots. Dalam sebulan aku beli 2-3 boots. “penyakit” ini muncul sejak aku pindah ke negara dingin, Inggris. The idea is to keep my feet warm. Tapi lama2 ketagihan dan keterlaluan juga sampai punya 7 boots dalam 3 bulan. Sudah punya mid-calf casual boot, pengen yg kneelen pointed boots, terus pengen punya yang knelen square, yang ankle, Wellington, yang hitam, coklat, merah dan seterusnya. Dari yang murah sampai yang mahal.

Suatu hari 2 minggu menjelang ulang tahunku, aku sibuk keluar masuk toko cari boots baru. Dirumah sibuk browsing cari model terbaru yang lagi nge-trend.

Ada satu aku suka, sebut aja di toko “A”. Janjian makan siang ama suamiku, aku ajak dia mampir minta pendapat dia. “They are nice” katanya aku masih ragu.

Besoknya lagi aku jalan ama teman kantor. Aku cerita tentang boots yang aku mau dan aku ajak dia mampir ke toko itu. Aku cerita bahwa di Indonesia aku biasa beli barang dengan harga sampai seratus, dua-ratus, tiga-ratus. Aku jelaskan beda mata uangnya. Jadi disini aku gak tau apa harga 175 pounds itu mahal atau tidak. Dia bilang mahal. I see. Aku pikir2 dulu beli atau enggak kalau gitu J

Akhirnya kami makan siang di café down town. Dan ketemu suamiku tanpa sengaja. Kami ngobrol bertiga juga tentang boots yang aku inginkan. Temanku, sebut aja “Cantik” tertawa terbahak2 sambil menceritakan bahwa boots seharga 175 pounds aku anggap murah. Karena aku masih bingung juga dengan mata uang baru.

Dia lalu tunjukkan boots yang dipakainya. “Boots lama dari kulit sintetis” katanya. “But they keeps me warm. These are my favorite boots. And they mean a lot” kata Cantik lagi. Cantik bilang punya beberapa boots juga dan ada yang kulit asli dan harganya 6 kali lipat dari boots yang dipakainya sekarang.” Boots ini jadi boots kesayanganku karena ini hadiah dari kakakku. She saved every penny she earned just to buy the boots for me on my birthday” katanya. Benar2 cerita yang menyentuh hati.

Pada akhirnya, aku belajar sesuatu dari percakapan kami. Benda apapun akan bernilai lebih dari harganya bila didapat tidak dengan mudah atau pemberian dari seseorang yang kita sayangi dan menyayangi kita.

Friend? Mate? Teman?

Friday, December 29th, 2006

Aku chatting ama temen lama 2 hari lalu. Dia tanya apa artinya friend, mate, soulmate. Di kamus, friend dan mate artinya akan sama “teman”. Tapi aku pelajari dalam percakapan sehari2 (dlm bhs inggris), berbeda dengan di Indonesia penggunaannya. Seperti ada aturan sendiri siapa teman dan siapa bukan.

Ada istilah sendiri untuk teman kantor, untuk orang2 yg kita sekedar kenal.

Aku banyak tanya ke orang sekitarku. Mereka bilang “Friend” itu orang2 yang benar2 dekat dengan kita, teman yang akan benar2 berbagi suka duka, main bareng, etc2. dan terutama yang saling mengerti dan saling jujur. Aku bingung. Lalu apa bedanya ama best friend??? Best friend sama ama friend, tapi ada semacam keterikatan bathin. We miss him/her yg sebenar2nya. Bukan hanya lips service. Dan berbagi the biggest secret. Things like that. Tidak semua orang yang kita kenal bisa dibilang teman.

Sepertinya mereka jarang pakai kata best friend. Yg sering mereka pakai hanya “friend” tapi itu mereka batasi pada teman yang sebenar2nya. That’s what I ve learn so far.

Thanks to Rasid who inspired me to write this.

Menikah

Saturday, December 16th, 2006

Aku punya teman, namanya SATU. Dia bilang akan segera menikah. Acaranya sederhana dirumah. Dan rencananya 2-3 bulan lagi baru ada pesta besar di gedung. Ternyata SATU langsung hamil dan hamilnya rewel. Dia bilang ah, sudahlah. Buat apa juga pesta besar-besaran. Yang penting kami sudah sah sebagai suami istri. Lebih baik uangnya untuk beli rumah. Akhirnya Satu dan suaminya beli rumah yg lumayan besar dengan 4 kamar dan cukup mewah. Mereka ingin punya 2-3 anak nantinya J

Aku punya teman namanya DUA. Dia hampir nangis bilang “aku hanya mampu buat pesta kecil dan sederhana. Dan memang itu yg aku mau. Tapi keluargaku sepertinya ingin pesta mewah dengan banyak tamu. Aku hanya bisa bilang, coba kamu bicara baik2 dengan mereka, buat mereka mengerti tentang apa yg kamu mau. Akhirnya keluarga DUA mengerti apa yg dia inginkan dan hanya ada pesta kecil, sederhana dan hikmat. Setengah tahun kemudian aku dengar DUA dan suaminya punya rumah mungil nan indah, dan baru beli mobil bekas yg masih lumayan bagus. Aku ketemu mereka dan mereka cerita tentang apa yg mereka sudah punya, dan bahwa semua itu mereka siapkan untuk anak mereka nantinya agar nyaman.

Aku punya teman namanya TIGA. Dia cerita dia akan menikah dengan pesta besar2an. 1000 orang akan diundang. Dia bilang bajunya pesan di luar negeri. Cincinnya berlian. Dan seterusnya dan seterusnya… WOW! beruntung sekali TIGA. Aku ketemu TIGA lagi beberapa tahun kemudian dikampung halamanku. Dia bilang sekarang dia dan suaminya tinggal dikota A. Suaminya kerja sementara dia dirumah. Rumahnya masih kontrak. Mereka sering tengkar karena masalah ekonomi. Tidak satu perhiasanpun melekat dibadannya. Hmm… kemana cincin berlian yg dia ceritakan dulu? Tentu pertanyaan itu aku simpan dibenakku. Dan aku hanya bisa bilang “Sabar Tiga, hidup memang tidak semudah yg kita bayangkan. Tapi juga tidak seburuk yg kamu pikirkan. Kamu masih beruntung bisa tinggal dirumah kontrakan yg cukup nyaman.”

Aku punya teman namanya EMPAT. Dia bilang akan menikah. Tapi acaranya benar2 sederhana. Dengan baju yang dirancang dan dijahitnya sendiri. Acaranya benar2 sederhana, tapi EMPAT dan suaminya, juga keluarga mereka terlihat bahagia… 2 tahun kemudian, aku mampir ke kota dimana EMPAT dan keluarganya tinggal. Mereka undang aku kerumah kontrakan mereka yang mungil. Hanya dengan 2 kamar. Tapi tertata dengan apik. Mereka sudah punya anak laki2 umur 1 tahun. Masih terbayang betapa bahagianya mereka menatap anaknya main-main dengan mobil2an plastik yg dibeli EMPAT di pasar dekat kantornya. Dia cerita bahwa dia dan suaminya akan segera beli rumah kecil dengan mencicil.

Yah, mungkin setiap gadis punya impian masing2 tentang baju pengantin, pesta pernikahan, bunga-bunganya. Akupun punya impian sendiri. Tapi yg kadang lupa kita pikirkan adalah bahwa itu hanya sebutir pasir di gurun pernikahan. Dan yg terpenting adalah bagaimana membangun sebuah keluarga bahagia dengan segala kelebihan dan kekurangan yg kita miliki.

Salam,

Farah

Tea? yes please…

Friday, December 8th, 2006

Ini pengalamanku pertama tinggal dan kerja di luar negeri. Being lucky as I got married to a british young man. Dia gak pengen aku buru2 kerja. Karena khawatir aku kedinginan. Dia bilang "Just enjoy your holiday and wait until you acclimatize". Even if you dont work we will be okay."  Ah…Very nice husband, he is… begitulah awal cerita aku terdampar di Inggris.

Setiap minggu aku dapat uang jajan yg cukup. Terbiasa kerja dan menghidupi diriku sendiri, aku malu mau minta uang tambahan untuk beli sesuatu yg aku amat sangat suka padahal gak perlu… biasa perempuan :) atau kalau pulsaku habis dalam 2-3 hari, aku akan diam sampai suamiku sms disela2 jam kerjanya dan aku gak bisa balas, baru aku telphone dia dengan landline bilang kehabisan pulsa. Akhirnya, aku bilang "I’m ready to work, baby. I want to try and get experience".

Dia saranin aku kerja temping. Jadi gampang kalau mau berenti even besoknya gak mau kerja lagi tinggal bilang. Aku kirim CV-ku ke salah satu job agency disini. Mereka yg tempatkan aku di perusahaan2 yang membutuhkan tenaga tambahan disaat amat sangat sibuk. I got a job in a week. Seneng sekali. Bener2 sebuah pengalaman berharga bagiku. Saat ini aku ditempatkan di perusahaan internasional bergerak dibidang banking dan insurance. Kebetulan aku di insurance-nya. Hari pertama, managerku temuin aku di receptionist. showed me around, kasih kode pintunya untuk masuk. It is a huge building. aku dilantai 2 dengan 100 orang staff kerja disana. Dan managerku tunjukin coffe machine. WOW!!!! keren banget. Maklum, aku baru kali ini ketemu heh3x… emang aku orang kampung. Aku bilang kalau aku gak terbiasa dengan mesin itu. Dia ajarin aku dan bilang, "don’t worry, biasanya ada yg datang nawarin mau minum apa."  Aku pikir seperti dulu waktu aku kerja di perusahaan tembakau. ada mbak-mbak yang tugasnya nyiapin minuman kami dan masak makan siang (karena makan siang kami buffet), jadi aku pikir ok dech. lebih baik gitu daripada tuh mesin aku rusakin heh3x…

Dan yang terjadi, orang-orang yang nawarin minum "can I get you something to drink?" bisa siapa aja. Temen2 kantor. Salah satu dari mereka kalau pengen ngopi atau teh, atau hot chocolate atau apa ajah yg tersedia dimesin itu, bakal nanyain setiap orang sekitarnya. Yang bikin aku terheran-heran, even my manager dan area manager-ku bakal nawarin aku minum. Sesuatu yg baru buat aku to be honest. Karena dulu, biasanya managerku yang minta aku ke dapur untuk pesen teh atau kopi ke mbak-mbak dapur. Gak mungkin aku minta managerku pesenin teh… So now, kalau ada yg datang dan tanya "Can I get you a drink?" … aku akan jawab "Oh 53 please" artinya white tea pake gula or "72 please" dapetnya hot chocolate… atau "just water please"