Naik Kereta Api
August 13th, 2007 by farahnuvusTiga bulan yang lalu suamiku pindah tugas ke kota lain. Sedih, kami gak bisa pulang pergi kantor sama-sama lagi L. Tadinya kami kerja di Haywards Heath dan jarak kantor kami berdekatan. But he got promotion, jadi sedikit banyak ada tambahan pemasukan; ini yang bikin senang J
Sejak itu aku pulang pergi kantor naik kereta api. Kalau cuaca bagus aku jalan ke stasiun Hassocks yang cuma 15 menit (dengan langkah kecilku J ). Sepanjang jalan hampir setiap hari aku berpapasan dengan pak pos yang mengayuh sepeda penuh semangat dan selalu menyapaku “Morning”…
Juga beberapa orang yang selalu lari pagi. We don’t really know each other tapi memang begitulah disini. Saling senyum dan sapa sudah biasa. Kadang aku ketemu Jhony teman suamiku yang kerja sebagai plumber.
Kecuali kalau hujan biasanya suamiku antar aku ke stasiun J.
Sampai di stasiun aku gak perlu antri beli tiket karena aku udah beli weekly tiket. I just grab a free newspaper. Baca koran sambil nunggu kereta-ku. Tapi sesekali perhatianku beralih ke orang-orang yang juga nunggu kereta. Macam-macam gaya berpakaian mereka.
Di kereta, aku masih nerusin baca koran-ku. Tapi aku juga sempat memperhatikan penumpang lain. Biasanya yang menarik perhatianku handbags mereka J karena aku suka tas. Mau gak mau kegiatan orang-orang sekitar tertangkap mata. Ada yang baca koran juga, ada yang baca novel, ada yang sibuk dengan jurnal kerjanya, ada yang sibuk dengan laptop-nya, ada yg memandang jauh keluar jendela dengan ipod-nya. Ada yang sibuk dengan HP-nya dan ada yg sambil sarapan di kereta. Hmm…. Mungkin mereka kerja di London… paling tidak mereka bakal on the train 30 menit atau lebih.
Aku naik kereta jam 8 pagi. Cuma 10 menit sampai di stasiun Haywards Heath. Alhamdulillah kantorku Cuma 5 menit jalan dari stasiun itu J. Jadi kalaupun hujan deras aku gak bakal terlalu basah plus payung mungilku juga sedikit banyak melindungiku dari guyuran hujan J
Kembali lagi ke ke- isengan-ku memperhatikan orang-orang sekitar, banyak hal yang membuatku berpikir, belajar, berharap dan bersukur.
Ketika, aku memperhatikan seorang wanita dengan tas bermerknya yang aku tau harganya ratusan pounds, begitu juga sepatu dan busananya keliatan mewah. Wangi parfum-nya yang aku kebetulan tau harganya gak murah. Ah… pasti dia wanita yang sukses. Pasti dia pintar. That’s why she earns a lot of money to buy all of those expensive things. Wanita ini membuatku ingin bekerja lebih baik dan lebih baik lagi.
Lalu ada juga seorang wanita yang berpakaian sederhana sekali. Hmm… berbeda sekali dengan wanita yang aku ceritakan tadi. Tapi wanita ini tampak begitu menikmati hari-harinya dengan segala kesederhanaannya, tas dan sepatu yang sama setiap hari. Aku jadi merasa jauh lebih beruntung dari dia. Aku punya beberapa tas dan sepatu yang aku bisa bawa/pakai bergantian tergantung warna dan style baju yg aku pakai. Meskipun Sepatu dan tas yang aku punya gak semewah wanita yang aku ceritakan pertama J. Dan wanita yang sederhana ini membuatku merasa harus belajar untuk tidak lagi terlalu menghamburkan uang (baca: beli tas J ).
Apalagi suatu hari; ada seorang wanita yg menyapaku “Excuse me… do you have some cash?” aku pikir dia mau tukar uang tadinya. Setelah aku jawab “Yes I have” dia bilang “I don’t have enough money to go to Burgess hill. Could you give me 50 pence?”
Ya Tuhan… wanita ini membuatku merasa ‘kaya’ sekali. Kebetulan aku ada uang. Aku bantu dia. Dan wanita ini membuatku semakin sadar untuk tidak terlalu menuruti kata hatiku. Untuk belajar menabung lebih lagi. For the rainy season. Roda selalu berputar. Belum tentu kita selalu diatas.
Aku juga jadi ingat masa kecil-ku. Ada masa dimana aku bisa punya segala mainan yang aku mau. Ada masa dimana setahun mainan baruku cuma bisa dihitung dengan jari di-satu tangan aja.
Hm… Aku pikir lebih baik merasa ‘cukup’. Dengan merasa cukup, hidup kita akan lebih tentram. Se’kaya’ apapun seseorang kalau dia merasa belum cukup dia akan tetap ngerasa belum kaya J. Apalagi ngerasa miskin… kalau masih bisa makan 3 kali sehari jangan deh ngerasa miskin. Masih banyak yg cuma bisa makan sekali sehari L. Yah, intinya tapakkan kaki kita dibumi saat kita menatap langit. Dan jangan lupa diatas lagit masih ada langit…
Pernah juga, seorang lelaki tua berkacamata hitam menyapaku, “Excuse me, do you know whether the next train is via Gatwick Airport or not? I missed the announcement”. Aku sempat bingung karena disini sudah cukup modern sekalipun stasiun sekecil Hassocks ada layar yang menunjukkan jadwal kereta dan berhenti dimana aja. Selain juga diumumin dan ada papan biasa dengan jadwal kereta tercetak. Tapi aku jawab juga bahwa kereta berikut bakal datang 5 menit lagi dan via Gatwick airport. Kemudian lelaki tua itu berkata “do you mind helping me getting into the train?”
Ya Tuhan… dia buta. “Not at all” jawabku. Lalu lelaki itupun membuka tongkat lipatnya. Aku juga tunjukkan dimana kursi yang kosong . Lelaki itu berterimakasih.
“Not a problem” jawabku sambil tersenyum. Dalam hati aku berkata “seharusnya aku yg berterimakasih Bapak… Bapak telah membuatku sadar aku lupa bersukur bahwa aku lahir dengan 2 mata sehat untuk melihat indahnya dunia”…
Ah, ternyata naik kereta api membawa hikmah dan ternyata dengan memperhatikan kelebihan & kekurangan orang lain bisa membuat kita belajar, berikhtiar untuk lebih baik lagi dan bersukur J