Naik Kereta Api

August 13th, 2007 by farahnuvus

Tiga bulan yang lalu suamiku pindah tugas ke kota lain. Sedih, kami gak bisa pulang pergi kantor sama-sama lagi L. Tadinya kami kerja di Haywards Heath dan jarak kantor kami berdekatan. But he got promotion, jadi sedikit banyak ada tambahan pemasukan; ini yang bikin senang J

Sejak itu aku pulang pergi kantor naik kereta api. Kalau cuaca bagus aku jalan ke stasiun Hassocks yang cuma 15 menit (dengan langkah kecilku J ). Sepanjang jalan hampir setiap hari aku berpapasan dengan pak pos yang mengayuh sepeda penuh semangat dan selalu menyapaku “Morning”…

Juga beberapa orang yang selalu lari pagi. We don’t really know each other tapi memang begitulah disini. Saling senyum dan sapa sudah biasa. Kadang aku ketemu Jhony teman suamiku yang kerja sebagai plumber.

Kecuali kalau hujan biasanya suamiku antar aku ke stasiun J.

Sampai di stasiun aku gak perlu antri beli tiket karena aku udah beli weekly tiket. I just grab a free newspaper. Baca koran sambil nunggu kereta-ku. Tapi sesekali perhatianku beralih ke orang-orang yang juga nunggu kereta. Macam-macam gaya berpakaian mereka.

Di kereta, aku masih nerusin baca koran-ku. Tapi aku juga sempat memperhatikan penumpang lain. Biasanya yang menarik perhatianku handbags mereka J karena aku suka tas. Mau gak mau kegiatan orang-orang sekitar tertangkap mata. Ada yang baca koran juga, ada yang baca novel, ada yang sibuk dengan jurnal kerjanya, ada yang sibuk dengan laptop-nya, ada yg memandang jauh keluar jendela dengan ipod-nya. Ada yang sibuk dengan HP-nya dan ada yg sambil sarapan di kereta. Hmm…. Mungkin mereka kerja di London… paling tidak mereka bakal on the train 30 menit atau lebih.

Aku naik kereta jam 8 pagi. Cuma 10 menit sampai di stasiun Haywards Heath. Alhamdulillah kantorku Cuma 5 menit jalan dari stasiun itu J. Jadi kalaupun hujan deras aku gak bakal terlalu basah plus payung mungilku juga sedikit banyak melindungiku dari guyuran hujan J

Kembali lagi ke ke- isengan-ku memperhatikan orang-orang sekitar, banyak hal yang membuatku berpikir, belajar, berharap dan bersukur.

Ketika, aku memperhatikan seorang wanita dengan tas bermerknya yang aku tau harganya ratusan pounds, begitu juga sepatu dan busananya keliatan mewah. Wangi parfum-nya yang aku kebetulan tau harganya gak murah. Ah… pasti dia wanita yang sukses. Pasti dia pintar. That’s why she earns a lot of money to buy all of those expensive things. Wanita ini membuatku ingin bekerja lebih baik dan lebih baik lagi.

Lalu ada juga seorang wanita yang berpakaian sederhana sekali. Hmm… berbeda sekali dengan wanita yang aku ceritakan tadi. Tapi wanita ini tampak begitu menikmati hari-harinya dengan segala kesederhanaannya, tas dan sepatu yang sama setiap hari. Aku jadi merasa jauh lebih beruntung dari dia. Aku punya beberapa tas dan sepatu yang aku bisa bawa/pakai bergantian tergantung warna dan style baju yg aku pakai. Meskipun Sepatu dan tas yang aku punya gak semewah wanita yang aku ceritakan pertama J. Dan wanita yang sederhana ini membuatku merasa harus belajar untuk tidak lagi terlalu menghamburkan uang (baca: beli tas J ).

Apalagi suatu hari; ada seorang wanita yg menyapaku “Excuse me… do you have some cash?” aku pikir dia mau tukar uang tadinya. Setelah aku jawab “Yes I have” dia bilang “I don’t have enough money to go to Burgess hill. Could you give me 50 pence?”

Ya Tuhan… wanita ini membuatku merasa ‘kaya’ sekali. Kebetulan aku ada uang. Aku bantu dia. Dan wanita ini membuatku semakin sadar untuk tidak terlalu menuruti kata hatiku. Untuk belajar menabung lebih lagi. For the rainy season. Roda selalu berputar. Belum tentu kita selalu diatas.

Aku juga jadi ingat masa kecil-ku. Ada masa dimana aku bisa punya segala mainan yang aku mau. Ada masa dimana setahun mainan baruku cuma bisa dihitung dengan jari di-satu tangan aja.

Hm… Aku pikir lebih baik merasa ‘cukup’. Dengan merasa cukup, hidup kita akan lebih tentram. Se’kaya’ apapun seseorang kalau dia merasa belum cukup dia akan tetap ngerasa belum kaya J. Apalagi ngerasa miskin… kalau masih bisa makan 3 kali sehari jangan deh ngerasa miskin. Masih banyak yg cuma bisa makan sekali sehari L. Yah, intinya tapakkan kaki kita dibumi saat kita menatap langit. Dan jangan lupa diatas lagit masih ada langit…

Pernah juga, seorang lelaki tua berkacamata hitam menyapaku, “Excuse me, do you know whether the next train is via Gatwick Airport or not? I missed the announcement”. Aku sempat bingung karena disini sudah cukup modern sekalipun stasiun sekecil Hassocks ada layar yang menunjukkan jadwal kereta dan berhenti dimana aja. Selain juga diumumin dan ada papan biasa dengan jadwal kereta tercetak. Tapi aku jawab juga bahwa kereta berikut bakal datang 5 menit lagi dan via Gatwick airport. Kemudian lelaki tua itu berkata “do you mind helping me getting into the train?”

Ya Tuhan… dia buta. “Not at all” jawabku. Lalu lelaki itupun membuka tongkat lipatnya. Aku juga tunjukkan dimana kursi yang kosong . Lelaki itu berterimakasih.

“Not a problem” jawabku sambil tersenyum. Dalam hati aku berkata “seharusnya aku yg berterimakasih Bapak… Bapak telah membuatku sadar aku lupa bersukur bahwa aku lahir dengan 2 mata sehat untuk melihat indahnya dunia”…

Ah, ternyata naik kereta api membawa hikmah dan ternyata dengan memperhatikan kelebihan & kekurangan orang lain bisa membuat kita belajar, berikhtiar untuk lebih baik lagi dan bersukur J

I Have No Clothes…

June 3rd, 2007 by farahnuvus

When I came to England to live I left most of my clothes at home. Let my friends and family to have some that they fancied. I preferred to bring lots of my favorite books, cd’s and bagsJ. My luggage was overweight that my best friend took home one of the bags and sent it over for me J

It was autumn when I arrived in England. My parents in law picked me up at Heathrow airport as my husband had to go to work. After they gave me hug and saying “welcome Mrs. Luckin” J they amazed how heavy the luggage I brought.

A week after I was over my jetlag days my beloved husband took me for shopping. I bought the warmest clothes for sure. Most of them are woolliesJ , boots and a couple of winter jackets.

Finally weather gets warmer I can put all my woolies in storage. I suddenly have no clothes. Well, I mean I feel like J. My husband was laughing to see me standing in front of my wardrobe quite awhile not knowing what to wear. He said “it is not like in Indonesia, isn’t it? When you buy clothes you can wear them the whole year”

“Oh well…” that’s all I could say J 

“Let’s go to Brighton and buy some clothes for you” he said then.

In Brighton we went to lots of shops and in one of those shops I tried 6 clothes and I liked just 4 of them. He also liked to see me wearing them and said “get them all I pay for you”. Some girls near us were looking at him amazed. But I made them drop their jaws as my answer was “Thanks, but I just get these 2 if it’s alright.”

“Are you sure?” he said again.

“100% sure, babe” was the answered I said

I am not a shopper in fact. Most of the time, I buy clothes and/or accessories only if I need to. To be honest I am not a fashionable person as well. I dress up for comfort. And most of the time my age dictates my style. Shoes??? I am more confident flats boots or ballet pump dainty. Though that doesn’t mean I don’t have high heels J But… Don’t even get me started on bags. I used to buy lots of bag. One time, I even bought a bag that didn’t look good with any of my clothes. In the end that bag stayed in my ‘special cupboard’ for awhile.

People change J I do not shop for bags that much anymore. Some new bags I have are gifts from my husband, mum in law and Ann, her best friend. I enjoy buying things for our house more nowadays.

Anyhow, summer in front of the door. Let’s welcome it in any way we like to J enjoy the spell of the sun.

A LOVING MEMORY OF MY BELATED FATHER

April 10th, 2007 by farahnuvus

When we were kids, my father and/or Mummy always drove us to school. It wasn’t far just half a mile away from home. Lazy? It wasn’t anything like that at all. Most people in my village were just not used to walk. Till now I believe J If they don’t have their own vehicles they will go anywhere by public transport. If it is not far than ‘becak’ is the option.

One day when I was 10 year old my father drove me to school liked always. My sister and my brother went to different schools already. Out of the blue I had an idea I asked my father to take me to school by a pushed bike the next day. He didn’t have one J but he agreed and managed to borrow our gardener’s bike.

I remember although it was not comfortable sitting on the back I had fun. I hold on tight with a big smile on my face. On the way, I asked my father what to say if I wanted people knowing I did not speak English. Because few days before one of his company’s customers asked what my name is in English. Of course I didn’t understand at all what he said and just smiledJ. My father was my interpreter. He told me what they asked. “Farah Wasarrotin Nuvus” I said loudly & proudly J they asked more questions such as; what does my name mean? How old I am? … Those days, English was not being taught to elementary students in Indonesia.

My father spoke English very well. He had studied in an English speaking boarding school. And he worked for our family’s tobacco company that had a lot of customers from abroad.

Since that day, I found myself interested in learning English. My father started to teach me a little bit. And I started to get English lesson at school when I was 12. My father still drove me to school. Moreover it was farther; 7,5 miles away. Sometimes on the way I asked what any thing called in English. It wasn’t for long L my father passed away a year after…

Time flies… I started to study in a university on August 1992. And it was an English Department. One day I got tears in my eyes…I said to myself “If only ‘Ayah’ (that’s how I called him) were still alive. If only he could still drive me to school… we would have been speaking in English…” Though my English was not so good that time J

Now my English is a bit better J I am sure he would be proud of me no matter where he is… May you rest in peace, Ayah. I love you.

Hidup Baru, Rumah Baru, Daerah Baru

March 30th, 2007 by farahnuvus

Akhirnya, aku & suamiku pindah ke flat yg dia beli. Proses pembeliannya bener-bener lama sekali. Segala detail dicek pengacara-pengacara suamiku. Polusi, development, macem-macem dech. Laporannya tebel banget. Skripsiku kalah tebel. Akhir November’06 resmi kami dapat kuncinya. Renovasi & dekorasi tertunda sampai awal January karena kebentur libur Christmas.

Waktu kami pindah akhir January lalu, kami pindah dengan segala keterbatasan yg ada. Tapi bahagianya minta ampun. Gak berhenti2 rasanya bersukur. Sejak kami nikah September’06 kami tinggal dirumah mum & dad. Numpang ceritanya J. Simbiosis mutualisme juga. Suka dukanya numpang? Rasanya banyak sukanya… mum & dad baik sekali… we make a good team. J Terutama awal2 aku migrasi. Mum & dad banyak membantuku untuk beradaptasi.

Gak ada dukanya sama sekali. We just feel happier to have our own house to live in and decorate it as we want to. We miss mum & dad for sure… Their jokes, their laughter… Tapi ini yg kami mau. We chose to live in our own place. Alhamdulillah kami mampu J. Kami bahagia dan bangga, dengan tidak mengecilkan teman2 yg memutuskan untuk tetap tinggal dengan orangtua-nya setelah menikah. Masing-masing punya alasan & pilihan kan J.

2 bulan setelah pindah ke flat…

Aku udah ngedaftarin diri ke dentist & health centre setempat. Waktu ngedaftar sih kebetulan ditemenin suamiku. Tapi check up-nya sendiri. Aduh…!!! Aku paling gak suka ke dokter sendiri. Even Cuma check up. Gigi-ku sih cuma dibersihin plus di-X’ray. Dokter giginya baik & cantik. Senyum2 aja liat gigiku banyak tambalannya. He3x…

Proses ngedaftarin diri ke health centre juga sama. Isi formulir, buat appointment untuk check up 2-3 hari kemudian. Dokter-nya juga baik banget. Aku konsultasi segala macem sebelum general check up-nya dimulai. Dari makanan2 yang aku konsumsi, birth control, dsb. Dokter G juga tanya sejarah kesehatan keluargaku. Alhamdulillah hasil check up-nya aku cukup sehat kalau mau memutuskan hamil. Lagian I don’t drink, I don’t smoke.

Urusan sampah kami gak perlu ngurusin ke parish council. Baru kami rencana kesana nanya2 jadwal collecting-nya eh, duluan dapet surat pemberitahuan plus brosur jadwal untuk sampah yg mixed, botol2 & kertas. Jadwalnya terpisah untuk kepentingan recycle.

Apalagi yah??? Oh hairdresser. Kalau ini Sabtu weekend pertama sejak kepindahan kami dah aku survey ha3x… aku jalan2 seputar desa sendiri Aku minta brosur ke beberapa hairdresser. Dirumah, aku baca brosur2 itu dan langsung buat appointment ama hairdresser yg aku pilih. Because this is how it works here. Kebanyakan hairdresser buat cewek kudu buat janji dulu. Aku udah check 6 hairdresser. Harus buat janji dulu J 

Sabtu siang aku memang selalu sendirian Suamiku kerja sampai jam 4, liburnya Minggu-Senin. Biasanya abis sarapan aku bersih2 rumah. After lunch, kalau cuaca cerah, aku jalan2 ke toko2 didesa kami, Hassocks. Ada aja yg dibeli, bunga atau kebutuhan rumah tangga… Atau kalau gak ada yg perlu dibeli, aku jalan ke taman desa. Bawa novel/majalah/koran dan sebotol air & snack. Duduk2 nikmatin sinar matahari sambil baca. Atau kalau gak, aku jalan2 ke kota sebelah. Flat kami Cuma 15 menit jalan dari stasiun KA. Jump on a train, ke Burgess Hill, Haywards Heath atau Brighton (Baru berani ke yang deket2 aja dan yg aku udah kenal betul areanya J). Windows shopping dewe atau janjian ma temen. Kadang juga Mum jemput aku ngajakin jalan atau lunch out bareng. Jam 4 aku selalu udah dirumah, nunggu suami dateng J Pernah juga sih seharian dirumah aja. Kadang males aja mau keluar.Yah gitu dech pelan tapi pasti aku mulai settle di rumah dan daerahku yang baru J J J 

GLOBAL WARMING

March 18th, 2007 by farahnuvus

Global warming jadi topic pembicaraan dimana2. Di Inggris, dimana aku tinggal sekarang, nurut mereka terasa banget. Karena winter kali ini bisa dibilang cukup hangat. Suhunya berkisar 0 -12 C. Sesekali aja -1C atau -2C. Buat aku yg baru migrasi ke negara 4 musim ini, menguntungkan sekali J. Aku ingat betapa aku kedinginan banget waktu aku ke Washington DC winter 2000. Winter 2005 juga pertama aku ke Inggris, Bbrrrrrr…. Hari pertama nyampe udah -6C L. Tapi serem juga sih kalau benar ‘hangat’nya winter kali ini karena global warming. Seremnya nurut aku; kalau winternya semakin anget tiap taunnya, gimana summer? Bakal semakin panas kah???

Bunga2 udah mulai mekar. Yang keliatan banget daffodils. Kata mereka sih bunga2 ini mekar sebelum waktunya saking hangatnya cuaca dan banyak kena sinar matahari. Katanya, hi3x… katanya muluk yah… namanya aku juga baru tunggal disini. Jadi aku gak tau percis he3x… Ok, balik lagi… katanya biasanya baru bunga2 yg kecil2 mekar, daffodils biasanya akhir Maret baru mulai berbunga. Iya juga, aku inget pertengahan Maret tahun lalu aku kesini for a visit tuh bunga baru nongol menjelang aku pulang. Hm…

Padahal daffodils dihalaman rumah mertuaku udah bermekaran awal Maret. Minggu akhir January daun2nya dah bermunculan dari bulb-nya Global warming?!?!….

Spring nurut kalender sini baru mulai officially 21 Maret. Itu kenapa aku post a shout out “Spring seems earlier”. Seneng sih, ngeliatin bunga2 aneka warna mulai mucul. Biasanya cuma rumput2 aja yg bertahan hijau selama musim dingin dan beberapa pohon (gak tau jenis apa) yg tetap hijau sepanjang tahun. Dibalik rasa seneng juga ada rasa ngeri, serem dan sedih campur aduk. Apalagi kalau nonton TV yang ngebahas tentang global warming yg juga nunjukin bukit es yg mencair aduuuh…. Kalau dah ada acara macem gini, aku ma suamiku nonton sampai abis. Biasanya, diakhir acara mereka kasih saran apa2 yg bisa kita lakukan agar global warming ini gak semakin memburuk. Dan kami coba jalanin.

Chatting ama temen2 di Indonesia, mereka cerita gimana cuaca di Indonesia juga. Hujan yang telat dateng, angin dll. Apa ini juga karena global warming??? Wallahualam. Cuma Tuhan yg tau. Tapi gak ada salahnya mulai sekarang ayo rame2 coba selamatkan bumi kita yg udah tua J

Marrakech, Morroco

March 12th, 2007 by farahnuvus

We cancelled our trip to Amsterdam as it wasn’t easy for me JUST to get an appointment to apply for a visa. We called the embassy 5 times for about 20 minutes each, and one minutes they charge 1 pound. Always end up with "please try to call from a land line"… It is a land line. I am an Indonesian. That’s why I need a visa to go to most countries in the world. Anyhow, tired of trying to call the embassy and don’t want to spend more money for a phone call that might be ended the same way I told my husband to just cancel the trip. We lost our money for the tickets. Never mind. Instead, I asked my husband to just show me around England. My adopted country. Because we had booked our days off to our employees. Bath was our choice before Surrey (as my husband friend Al & Becky would get married on the 10th of March in Surrey)

A week before our holiday we were browsing on the internet, checking for any hotel to stay in both places and things to do there. Suddenly, my husband got an idea to go to a warmer place. We need to fly at least 4 hours away from here. Turkey, Spain and Morocco were places we thought. As we found out that no visa required for us to go to Morocco we decided to go there J.

We flew to Marrakech on Sunday, 4 March’07. We planned to just stay at Marrakech. We arrived at Marrakech airport about 6 PM. It was quite warm about 25C. Got a petit taxy (that’s how they call it) to Amine hotel through the pink city J as all the walls dominated with pink color. Well, it is not really pink I think. It’s a natural hue of earth. Ah, by the way, local people will greet us "Bonjour or bonsoir". Most of them speak French. Lucky my husband speaks Arabic though very little but very useful for our trip there. We checked in, unpacked, had showers and went to ‘Jemaa El Fna’. It is a big square. Lots of open-air restaurant where we can snack on anything from snails to sheep’s head. The orange juice is very juicy. Lots of attractions as well. We had dinner at Chez Chegrouni. Sitting on a rooftops terrace with a view of the Jemaa El Fna.

The next day, we had sun bathing by the pool at the hotel after breakfast. It was very nice and warm but the pool is freezing. It is not like in Bali, feeling hot after sun bathing we can just jump to the pool. There, I entered the pool slowly. Seemed they did not heath the pool. And it could be very cold at night in Marrakech, maybe that’s why. Around 3 o’clock we went to Koutoubia Mosque and the square again, the Jemaa El Fna, to see what it’s like during the day.

If Paris has the Eiffel Tower, London has Big Ben and Marrakech has Koutoubia. Its square, towering minaret is the most recognizable icon. It is also one of the city’s oldest structures and believed to be the first thing ever built there. The minaret of the Koutoubia Mosques is only 77 metres or 252 feet hight. But as it is forbid to build any other building to rise above the height of a palm tree, it towers majestically over it’s surroundings. Therefore, the minaret is the first thing that any visitor sees when approaching the city from afar.

While in the square (Jemaa El Fna) there were lots of attractions as usual. The open-air restaurant were not opened yet. We saw a snake charmer, had local snacks that tend to be so sweet, ice cream and tried the mint tea at Argana restaurant. Then we went to the souks, on the north of Jemaa El Fna with alleyway upon alleyway of tiny shops. The overwhelming number of shops is offset by the fact that most of them seem to offer exactly the same non-essential goods; such as canary-yellow slippers, embroidered robes, rugs, spices, etc. We eventually found a rug that may look nice in our lounge J.

Walking back to Jemaa El Fna, we ended up in one of the open-air restaurants. Having lamb kebabs, salads and orange juice. It was not any cheaper then the terrace restaurant at all. Yet, the dinner was worth it.

On Wednesday we went to Majorelle Gardens. the gardens was created in the 1930s by two generations of French artists, Jacquest and Louis Majorelle. The color is striking, blue offset with soft yellows and terracottas. there’s a fine little Museum of Islamic Art that before it was Jacques Majorelle’s studio. the plantations are bamboos, great palms tower over all, water lilies etc and they are all is clearly labelled. Later on we got a horse-drawn carriage taking us around the town. Back to Amine hotel, we were having a siesta awhile before walking up to Mohamed V Avenue for windows shopping.

Thursday we may say as our last day in Marekech. We went to Ben Yousseff Medersa. A Medersa is a Koranic school that was still in use until as recently as 1962. There are over a hundred tiny students chambers on two floors. on the center is a water-filled basin. the surrounding facades are decorated with tiling, stuco and carved cedar. It’s wonderful and peaceful there.

The second place we visited is Musee de Marrakech. the building itself is fantastic, colorful tiling, roofed over and hung with an enormous chandelier.

Across from the Ben Youssef Mosque is the Koubba El Badiyin that is also known as Qoubba Almoravide. After visited the Koubba we went to a tannerie. Our guide handed out some springs of mint to hold under our nose to block out the smelt. Yet, it didn’t really help. My stomach a bit rebel. We were back to the hotel after lunch for sun bathing and just relaxing at the hotel.

Friday morning we walked to town again to a small coffe not so far from Amine Hotel (I forget the name) as my husband likes the coffe they served better than the one our hotel served. It was a nice small coffe by the street that we could sit in the sun. Two hours later we were back into Amine hotel packed then headed to the Marekech airport by a petit taxy. Spending our last coins in a small gift shops at the airport and flew back to England… Home…

Reality Show

January 20th, 2007 by farahnuvus

Semalem aku dan suamiku nonton acara reality show. Judulnya Big Brother. Episode selebritis. Ceritanya beberapa orang tinggal dalam satu rumah. Cuma ada taman kecil. Tertutup dari dunia luar, gak ada TV atau Koran dan sejenisnya. Mereka tinggal disana rame2. gak bisa kemana2 dan dimonitor kamera terus apapun kegiatan mereka, kecuali di kamar mandi.

Nah, ada cewek namanya Jade Goody dia tadinya favorite pemirsa. Pernah ikut acara ini th 2002 dan sejak itu namanya meroket.. Hari pertama dia masuk Big Brother House tahun ini  penonton teriak2 mengelu2kan namanya. “Wow” kata dia.

Beberapa orang yg tinggal dirumah itu dari berbagai kalangan dengan berbagai sifat dan sikap tentunya. Dan mereka belum pernah ketemu sebelumnya.

Diantaranya ada saudara Michael Jackson, terus ada Bollywood star Shilpa Setty dll.

Selama di karantina itu terjadi sesuatu yg akhirnya mengarah ke racist bully dan penghinaan menurut “kacamata” public.

Diacara tersebut Goody sempat nyindir2 Setty. Lama2 dia langsung pakai kata2 kasar. Di salah satu news dan cuplikan episode lalu; Setty dipanggil “Dog” , “Poppadom” (makanan India yg kaya kerupuk), “The Indian” dan beberapa kata kasar lainnya.

Besar banget akibat dari hanya beberapa kata yang diucapkan Goody. Bukan hanya dia ter-eleminasi dari acara tersebut. Tapi banyak orang menilai dia kasar dan racist. Dan penggemarnya banyak yg pergi meninggalkan dia. Setty juga sempat nagis dan tersinggung. Tapi Dia sabar ngadepinnya Cuma bilang “Why… Why…? I don’t deserve this…”

Ini jadi perbincangan dimana2. Internet chatrooms, newsrooms, newspapers, dipenuhi acara debat tentang apakah kata2 yg dilontarkan Goody termasuk racism dan apakah mencerminkan prejudice.

Pada saat Goody keluar dari the Big Brother House, tidak satu-pun penggemarnya menunggu diluar. Menyedihkan. Tapi ini juga antisipasi kru TV karena khawatir atas keselamatan Goody.  Tadinya dia dielu-elukan dan sekarang dicemo’oh banyak orang.

Goody kemudian di-interview. Sebelumnya, dia diminta nonton cuplikan2 kelakuannya selama di karantina. Dan beberapa cuplikan berita2 di TV yg membahas kelakuan dia.

Goody merasa malu setelah nonton footage2 tersebut. Tentu dia membela diri dengan mengatakan “aku memang mengucapkan kata2 itu. Tapi gak bermaksud menyakiti siapa2 dan aku bukan racist atau bully. Aku minta maaf sebesar2nya pada semua orang yg tersinggung atas kata2ku”

Heh3x… gak ada kata terlambat untuk minta maaf sih. Tapi Opini public sudah terbentuk. Kemarahan public tak terbendung. Bukan Cuma orang India yg benci dia. Orang2 di Inggris-pun membencinya sekarang. Karir-nya terancam. Sebelum ninggalin the house dia bilang “It was the beginning of my career and it’s the end of my career.”

Kasian juga. Padahal sebelum acara eleminasi Goody dan Setty tampaknya udah baikan. Tapi masyarakat masih marah. Dan kata suamiku, “Salah dia sendiri, dia emosi dan dia lupa diri bahwa acara itu tersiar luas dan website-nya juga untuk umum. Semua orang diseluruh dunia bisa liat atau baca beritanya.”

Lalu suamiku berpendapat; “Aku sih berpikirnya dia sebenarnya gak racist, tapi dia iri karena Setty cantik. Mungkin Goody merasa kalah dan mulai merendahkan Setty dengan senjata lain” .

Yah, bisa jadi sih… Sekarang Goody harus mulai dari awal lagi. Bahkan kabarnya dia bakal dijaga ketat karena public disini banyak yg benci dia… hmmm…

Aku & suamiku yg jarang memperhatikan acara ini jadi pengen ngikutin terus J 

Semoga Goody dan kita belajar sesuatu dari kejadian itu.

AGENT

January 14th, 2007 by farahnuvus

Apa sama dg agent 007? Sama sekali beda. AGENT tuh singkatan A Generation of English Ninety Two. Begitulah kami angkatan Sastra Inggris 92 UNEJ bikin group. Kami punya millis dimana kami bisa share semuanya. Bahkan ada beberapa yg tinggal di Jakarta sering ngumpul sebulan sekali untuk menyambung tali silaturahmi. Buat yg jarang bisa ngumpul karena kesibukan atau keterbatasan kami masih bisa komunikasi lewat millis kami.

Sudah 10 tahun lebih kami lulus, ada yang sudah berkeluarga, punya anak kembar, punya anak 1, 2, 3 anak … ada juga yg masih single, ada yg sudah punya rumah besaaar banget, ada yg masih kontrak, ada yg masih ngekos. Ada yg kerja di DPR dan sering keliling ke luar negeri, gak sedikit yg sukses buka usaha sendiri, ada yg jadi ibu rumah tangga aja. Ada yg jadi petani sukses pula! Ada yg baru berangkat haji, ada yg keliling eropa untuk tugas. Ada yg nikah dan netap di Jerman, ada yg di Inggris (he3x… kayaknya aku dewe nih) Dan banyak yg sekolah lagi. Bangga banget deh ma mereka.

Baru aja aku baca email Kuncoro. Dia cerita Agus baru beli rumah di Depok. Air mataku jatuh. Bahagia sekali ngedengernya. Aku langsung SMS dia "Selamat Gus, udah dapet rumah.  I’m happy for you". Dia bilang "rumahku kecil, Far". Aku jawab "bisa punya rumah udah Alhamdulillah Gus. Suamiku juga cuma bisa beli apartment kecil, Yg penting rumah kita penuh barokah Allah." "Ya, saling mendoakan ya…" kata Agus akhirnya. Aku ikut bahagia karena aku tau seperti apa perjuangan Agus, mulai jadi guru honorer sampai bolak balik ke Jakarta untuk ikut tes pegawai negeri. He got the job finally. Sering seminar keluar kota termasuk ke Bali waktu aku masih di Bali. Lalu juga aku dengar gimana dia keliling Jakarta cari rumah yg sesuai budget.

Dulu kami kadang ngumpul dirumah Mami-ku di desa. 20 menit dari kampus. Kebetulan Mami punya rumah besar dengan 7 kamar, dan hanya kami berdua tinggal disana. Ayahku sudah lama meninggal, Kakak dan Abangku kerja & berkeluarga di luar kota. Jadi rumah Mami sering jadi base camp kami ngumpul, rujakan, makan duren, ngopi, masak rame2… Ada yg anak orang kaya, ada yg anak pegawai rendahan, anak petani (seperti juga aku) tapi semua itu gak jadi masalah. Gak ada anak Kepala bank, anak dosen, anak pengacara ternama, anak petani, anak guru SD dll. Yang ada AGENT. Anak muda yg punya segudang cita2.

Sekarangpun, kalau kami ketemu dan ngumpul rame-rame semua predikat ditanggalkan. Mereka bawa keluarga mereka. Ada yg nikah ama sesama anggota AGENT ha3x… seru. Kalaupun cerita just to share experiences. Kuncoro baru kirim web photo2 mereka ngumpul di Malang. Sedih, aku gak bisa ikut lebaran kemarin. I miss you and I’m so proud of you all!!

Tea? Yes please… part-2

January 8th, 2007 by farahnuvus

Sudah 1 bulan lebih aku kerja di insurance company yg punya "cool coffe machine" :) Dan aku sudah bisa menggunakannya. ah… senangnya. Jadi sekarang aku sudah bisa menawarkan "Rossie, Diane, Nicky, Pauline, Catherine, Gina… (Etc) would you like something to drink?" setelah mereka jawab apa yg mereka mau. Aku bawa bakinya, dan mulai pencet2 kodenya :) Eh iya, emang disebut coffe machine. Tapi jangan salah… yg tersedia ada tomatto soup, orange juice, white tea with sugar, black tea, capuccino, hot chocolate with cream or without… espresso macem2 dech. aku gak hapal kalau gak liat didaftarnya.

Minggu lalu awal kami mulai kerja di tahun baru. Gina bawa bakinya dan tanya "would you like something to drink?" (ke beberapa staff sekitarnya termasuk aku)… tentu aku jawab "Oh, that would be lovely. 53 please."

What is so special then? it is the same story and question. Well, ini istimewa dan gak biasa banget nurut "kacamata"-ku yg dulu. Karena Gina, yang nawarin staff sekitarnya mau minum apa, adalah Direktur kami. Amazing isn’t it ?!?

Boots Tua Temanku

December 29th, 2006 by farahnuvus

Aku gila belanja tas dari dulu. Sekarang??? Aku gila beli boots. Dalam sebulan aku beli 2-3 boots. “penyakit” ini muncul sejak aku pindah ke negara dingin, Inggris. The idea is to keep my feet warm. Tapi lama2 ketagihan dan keterlaluan juga sampai punya 7 boots dalam 3 bulan. Sudah punya mid-calf casual boot, pengen yg kneelen pointed boots, terus pengen punya yang knelen square, yang ankle, Wellington, yang hitam, coklat, merah dan seterusnya. Dari yang murah sampai yang mahal.

Suatu hari 2 minggu menjelang ulang tahunku, aku sibuk keluar masuk toko cari boots baru. Dirumah sibuk browsing cari model terbaru yang lagi nge-trend.

Ada satu aku suka, sebut aja di toko “A”. Janjian makan siang ama suamiku, aku ajak dia mampir minta pendapat dia. “They are nice” katanya aku masih ragu.

Besoknya lagi aku jalan ama teman kantor. Aku cerita tentang boots yang aku mau dan aku ajak dia mampir ke toko itu. Aku cerita bahwa di Indonesia aku biasa beli barang dengan harga sampai seratus, dua-ratus, tiga-ratus. Aku jelaskan beda mata uangnya. Jadi disini aku gak tau apa harga 175 pounds itu mahal atau tidak. Dia bilang mahal. I see. Aku pikir2 dulu beli atau enggak kalau gitu J

Akhirnya kami makan siang di café down town. Dan ketemu suamiku tanpa sengaja. Kami ngobrol bertiga juga tentang boots yang aku inginkan. Temanku, sebut aja “Cantik” tertawa terbahak2 sambil menceritakan bahwa boots seharga 175 pounds aku anggap murah. Karena aku masih bingung juga dengan mata uang baru.

Dia lalu tunjukkan boots yang dipakainya. “Boots lama dari kulit sintetis” katanya. “But they keeps me warm. These are my favorite boots. And they mean a lot” kata Cantik lagi. Cantik bilang punya beberapa boots juga dan ada yang kulit asli dan harganya 6 kali lipat dari boots yang dipakainya sekarang.” Boots ini jadi boots kesayanganku karena ini hadiah dari kakakku. She saved every penny she earned just to buy the boots for me on my birthday” katanya. Benar2 cerita yang menyentuh hati.

Pada akhirnya, aku belajar sesuatu dari percakapan kami. Benda apapun akan bernilai lebih dari harganya bila didapat tidak dengan mudah atau pemberian dari seseorang yang kita sayangi dan menyayangi kita.